Nyanyian Rakyat Kahende-hende, Sastra Lisan Masyarakat Muna yang Terancam Punah

JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM - Pada masyarakat (suku) Muna di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara banyak ditemui bentuk sastra lisan. Misalnya nyanyian rakyat (Kahende-hende), teka-teki (Wata-watangke), pantun (Kabhanti),  mantra, peribahasa, dan cerita rakyat.

Beberapa produk kretif sastra lisan ini hanya sebagian saja yang bisa bertahan pada zaman modernisasi masa kini. Masyarakat Muna yang masih mempertahankan eksistensi bentuk-bentuk sastra lisan tersebut sudah jarang ditemukan, terkhusus  kalangan generasi muda.

Nyanyian rakyat merupakan salah satu sastra lisan yang masih bisa dijumpai dan didengar. Nyanyian dengan berbagai syairnya merupakan salah satu kebudayaan daerah yang masih hidup. Nyanyian daerah ini biasanya dibawakan dengan iringan alat musik tradisional (gong, gendang) dan ada juga yang hanya sebatas dinyanyikan tanpa alat musik. Jika dalam acara-acara adat biasanya disertai alat musik, dalam artian tergantung konteks lagu itu dinyanyikan.

Gendang, alat musik tradional masyarakat (suku) Muna. (Foto: Muhamad Taslim Dalma, Juni 2013)
Nyanyain rakyat yang tidak diiringi musik misalnya nyanyian rakyat Kahende-hende yang dinyanyikan seorang ibu yang hendak menidurkan anaknya dalam kabue (ayunan). Tak jarang, juga terdengar bisa seorang ibu menenangkan anak yang menangis.

Nyanyian ini merupakan nyanyian yang dikenal dalam suku Muna secara turun-temurun dan bersifat anonim. Nyanyian Kahende-hende dinyanyikan sejak anak masih bayi sampai berusia tiga (3) tahun.

Anak yang berusia 0-3 tahun boleh jadi belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang dinyanyikan oleh ibunya, namun nyanyian tersebut bisa menjadi bentuk komunikasi antara ibu dan anak yang masih balita. 


Usia tersebut merupakan periode emas pertumbuhan otak (Brain Growt Spurth) yakni masa pertumbuhan pada otak manusia yang paling cepat yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Salah satu hal yang diperlukan dalam periode ini yaitu peran aktif orang tua, pendidik dan masyarakat dalam memberikan stimulasi yang tepat. 


Stimulasi pada usia masih balita bisa  berbentuk pendidikan yang benar sehingga dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otaknya. Kaitannya dengan nyanyian rakyat Kahende-hende, bisa jadi lagu tersebut menjadi stimulasi dari seorang ibu dalam mendidik anaknya yang masih berusia dini, mengingat banyaknya kandungan nilai-nilai pendidikan dalam nyanyian tersebut.


Keberadaan Nyanyian Rakyat Terancam

Keberadaan nyanyian rakyat Kahende-hende pada pada dasarnya sudah mulai tersisihkan dari kehidupan masyarakat. Hal itu tercermin dari lantunan nyanyian rakyat kahende-hende yang semakin jarang dijumpai pada masyarakat Muna.

Penyebab utama nyanyian rakyat tak lagi eksis karena kurangnya kepedulian generasi muda untuk mempelajari dan memahami warisan leluhurnya tersebut. Generasi daerah saat ini lebih tertarik dengan apa yang ditampilkan media elektronik seperti siaran televisi (TV) dan media online.

Kondisi yang demikian sangat memprihatinkan, bukan hal mustahil nyanyian rakyat Kahende-hende akan mengalami kepunahan apabila tidak dilestarikan. (Baca Artikel Selanjutnya :
Syair Lagu Kahende-hende, Nyanyian Rakyat Muna)



Referensi: Hasil penelitian Muhamad Taslim Dalma dalam skripsi berjudul "Nilai-Nilai Pendidikan dalam Nyanyian Rakyat Kahende-hende pada Masyarakat Muna" tahun 2014.

0 Response to "Nyanyian Rakyat Kahende-hende, Sastra Lisan Masyarakat Muna yang Terancam Punah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel