Cerita Tentang Haroa: Tradisi yang Mengharmoniskan Keluarga

Seorang modji/imam dalam proses haroa. 
JENDELASULTRA.BLOGSPOT.COM – Haroa sebagai sebuah tradisi bagi masyarakat Buton dan Muna bukanlah sekedar acara biasa. Haroa adalah proses bagaimana cinta dirawat, bagaimana kasih dipelihara, dan bagaimana sayang teraktualisasi. Dalam proses haroa terlihat betapa harmonisnya sebuah keluarga. Saling bergotong royong, saling memberi perhatian.
 
Dalam prosesinya, ada tokoh utama yang paling berperan yaitu ibu rumah tangga. Sang ibu si juru masak yang berbelanja, yang membuat hidangannya, yang mengkoordinir semuanya. Sedangkan suami dan anak laki-laki hanyalah tokoh pembantu. Sang ibu yang akan repot memasak dari pagi hingga sore di dapur, dan kalau ada, dibantu anak perempuan, nenek, serta saudara perempuan.

Baca jugaHaroa, Tradisi Masyarakat Muna-Buton Bernuansa Islami

Kaum laki-laki mengurusi pekerjaan yang berat-berat (butuh otot), mulai dari ambil kayu bakar, cari air, menyembelih ayam, cari janur kelapa, hingga soal angkat mengangkat yang berat. Selama persiapan hingga pelaksanaannya sangat tampak kekompakkan dan rasa persatuan keluarga. Semua berbagi peran, semua menyibukkan diri.

Acara haroa butuh persiapan sehari penuh. Apalagi, zaman dahulu sebelum zaman serba teknologi canggih seperti sekarang ini, sebelum tahun 2000-an. Sebelum tahun itu, serba tradisional dan khas kampung.

Dahulu persiapan menu makanan haroa dilakukan serba manual.  Misalnya parut kelapa, menghaluskan tepung beras, memasak harus menggunakan kayu bakar, dan tali pengikat lapa-lapa (makanan khas) harus dari tali bontu (kulit kayu yang dibuat jadi tali).
Keluarga di Muna yang sedang mengikat lapa-lapa (makanan khas) untuk sajian haroa. 

Salah satu yang paling sulit, adalah menghaluskan beras untuk bahan pembuatan cucur (kue khas). Sang ibu akan terbangun pada dini hari, saat subuh. Beras yang sudah dilembabkan dengan air ditumbuk dalam  lesung, dibantu suami yang lebih bertenaga. Betapa romantisnya, suami istri yang menumbuk demikian. Bergantian, satu menumbuk satu menyaring tumbukan.

Bayangkan, seisi kampung melakukan hal yang sama. Suara tumbukan lesung, bersahut-sahutan mengalahkan suara kukuruyu ayam jantan. Usai ditumbuk, hasil tumbukan disaring, tumbuk lagi, saring lagi. Hasilnya, tepung beras yang benar-benar halus, untuk dibuat kue cucur yang benar-benar renyah.

Baca juga: Makna Haroa Muna-Buton dan Alasan Ada Bakar Dupa dalam Prosesinya

Keakraban lainnya, adalah ayah dan anak laki-lakinya yang mempunyai tugas utama mempersiapkan ayam, untuk hidangan ayam parende (dimasak kuah dengan campuran daun kedondong). Kalau ada, dibantu kakek sebagai juru potong ayam.

Persoalannya, ayam di halaman mesti dikejar. Seperti mendapat firasat, ayam yang akan disembelih jadi begitu liar pada hari-hari haroa. Mungkin karena dari subuh sudah terusik dengan aktivitas keluarga yang tak biasa.

Ayah dan semua anak lelakinya akan bahu membahu mengejar. Seperti dalam film-film laga, saat seorang jagoan mengejar penjahat, menerjang semak melompati pagar. Kondisi terburuk, ayam yang lelah dikejar akan berdiam patung dalam semak belukar. Walhasil harus memanggil tetangga untuk memeriksa seisi halaman rumah. Tak jarang, penangkap ayam seperti kiper yang menerjang ke sisi kiri-kanan-depan apabila ayam berhasil ditemukan keluar dari semak.

Begitu ayam didapat, tak perlu lama, langsung potong, cabut bulunya. Soal cabut bulu ayam ini, lazimnya tidak boleh disiram air panas. Bulu ayam harus dicabut satu-satu. Betapa kerasnya bulu itu, apalagi kalau ayamnya sudah tua, terus yang mencabut anak-anak.

Sebelum dipanggang, isi dalamnya berupa hati dan tingkula (ampela) diambil oleh para lelaki sebagai bonus karena sudah capek mengurusi ayam. Ampela itu langsung dipanggang lalu dimakan saat itu juga, dengan catatan: hati hanya untuk orang tua (si ayah atau kakek). “Pemali” (terlarang) untuk dimakan anak-anak. Entah apa maksudnya, padahal hati ayam, salah satu bagian yang sangat bergizi.

Ayam lalu dipanggang di atas nyala dan bara api. Bulu-bulu halusnya semua terbakar habis. Rangkaian pengerjaan ayam yang demikian, membuat rasa ayam terkunci dan menimbulkan rasa dan aroma khas ketika sudah dimasak.

Tantangan terakhir dari acara haroa adalah mencari modji/imam kampung yang memang memiliki tugas untuk memimpin jalannya haroa dengan bacaan-bacaan doa islami. Persoalannya, jumlah modji ini sangat terbatas. Dalam satu kampung, paling hanya ada satu atau dua modji.

Saat musim haroa, di bulan ramadhan, seisi kampung masing-masing rumah menggelar haroa. Maka harus antri untuk dikunjungi modji. Karena acara haroa kebanyakan diselenggarakan malam hari (saat semua sajian makan sudah siap) maka tidak semua rumah dapat dikunjungi modji dengan cepat.
Berbagai jenis kuliner khas tradisional Muna-Buton yang disajikan saat acara haroa.
Hal demikian, membuat satu keluarga menunggu di depan sajian haroa yang sudah ditutup tudung saji. Apa boleh buat, sajian makanan yang sudah ditutup tudung saji tak boleh dibuka-buka lagi. Satu-satunya yang dapat membukanya adalah modji ketika selesai membaca doa haroa.

Baca juga: Begini Pelaksanaan Acara Haroa Berlangsung

Makanya, pengalaman acara haroa tengah malam adalah hal yang biasa pada zaman dahulu.  Di saat kantuk sudah membuai, tiba-tiba modji mengetuk pintu rumah. Kadang pula, biar modji tidak lupa, si anak lelaki yang akan pergi mengikuti modji ke rumah-rumah tetangga hingga akhirnya diantar ke rumah sendiri. 

Begitulah rangkaian pengalaman manis selama berharoa. Mereka yang besar dan kekar dalam tradisi Muna-Buton tak akan pernah melupakan hangatnya keluarga ketika pelaksanaan acara haroa. Di perantauan atau dimanapun berada pastilah akan selalu terkenang cerita-cerita yang demikian. 

Penulis: Muhamad Taslim Dalma

0 Response to "Cerita Tentang Haroa: Tradisi yang Mengharmoniskan Keluarga"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel